Dmall_Tampak_Depan
Dendy Herdianto

Dendy Herdianto

Business Developer, Content Writer, Islamic Economic Enthusiasm

Transformasi Struktural, Pola Konsumsi Gen Millenials dan Kasus Bisnis D’mall

Dewasa ini, perekonomian Indonesia mengalami transformasi struktural, dimana PDB yang merupakan wujud dari pendapatan nasional didominasi oleh sektor jasa. Dahulu, perekonomian Indonesia. Board of Advisors Indonesia Services Dialogue (ISD) Mari Elka Pangestu dalam pemberitaannya di website beritasatu.com mengatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir kontribusi sektor jasa terhadap PDB terus naik, pada tahun 2000 kontribusi sektor jasa mencapai 45% kemudian meningkat menjadi 60% pada tahun 2015. Sektor jasa telah menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang sangat besar.  Ini membuat perekonomian bergerak terus. Karena masyarakat dapat memperoleh pekerjaan yang memberikan mereka pendapatan. Dari pendapatan tersebut mereka dapat Investasi meningkat di sektor ini.

Di sisi demografi, terjadi perubahan struktur kependudukan. Gen Millenials atau orang-orang berusia produktif memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi. Ini dapat diukur dengan menggunakan dependency ratio (rasio ketergantungan). Secara definisi, dependency ratio adalah indikator yang secara kasar menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara. Ia adalah perbandingan antara usia produktif dan tidak produktif. Semakin tinggi tingkat dependency ratio, artinya semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum dan tidak produktif. Usia penduduk belum produktif terhitung diantara usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas. Adapun  penduduk produktif adalah yang berusia 15-64 tahun.

Perhitungan dependency ratio adalah sebagai berikut :

Penjelasan perhitungannya adalah seperti ini, misal hasil perhitungannya adalah 50. Artinya setiap 100 orang penduduk produktif menanggung beban 50 orang penduduk tidak produktif,

BPS menunjukkan bahwa akan terjadi penurunan dependency ratio dari tahun 2015 ke tahun 2020. Tercatat pada tahun 2015 dependency ratio sebesar 48,6 dan pada tahun 2020 sebesar 47,7. Terjadi penurunan sebesar 0,9. Penurunan tingkat ini menjadi bukti bahwa memang telah terjadi penurunan struktur kependudukan dimana Gen Millenials lebih banyak. Hal ini kemudian akan berpengaruh pada sektor perekonomian. Seperti yang telah dikatakan sebelumn ya, bahwa perekonomian telah mengalami transformasi struktural. Hal ini dikarenakn pola konsumsi Gen Millenials yang berubah. Produk-produk ritel sudah bukan menjadi konsumsi utama mereka. Inilah yang menyebabkan saat ini banyak toko-toko ritel yang tutup. Bukan semata-mata dikarenakan ada digitalisasi market. Hal ini dikarenakan Gen Millenials lebih cenderung mengeluarkan uangnya untuk konsumsi di sektor jasa, khususnya dunia hiburan. Mereka akan cenderung memilih mengeluarkan uangnya untuk nongkrong bersama teman, menonton bioskop atau melakukan travelling. Untuk durable goods seperti pakaian, sepatu, tas dan sebagainya, mereka beranggapan bahwa “ ini masih layak, pakai, belinya kapan-kapan aja kalau emang benar-benar rusak atau sudah tidak layak pakai”.

Melihat kondisi masyarakat yang seperti ini, salah satu mall di Depok mulai melakukan pembenahan. Mengawali bisnis dengan mengembangkan sektor ritel, awalnya mall memiliki banyak pengunjung. Seiring berjalannya waktu, terjadi penurunan pendapatan di sektor ini. Ini membuat keadaan mall saat itu nyaris menunjukkan tanda-tanda akan ditutup. Hingga akhirnya, mall di Depok memutuskan untuk mengganti main business-nya ke sektor hiburan, yaitu dengan menghadirkan bioskop. Konsep bioskop yang dibangunpun memberikan penampilan ruang yang dapat memenuhi hasrat anak muda yang suka nongkrong. Perubahan main business ini membuat Mall di Depok kembali bangkit. Semua orang, khususnya generasi Millenials pada umumnya akan datang ke Mall dengan alasan ingin menonton bioskop.

Beginilah keadaan perekonomian Indonesia sekarang, sudah saatnya kita melihat ini secara cerdas. Bagi seorang entrepreneur, ini merupakan sebuah peluang untuk memulai atau membenahi bisnisnya. Bagi akademisi, ini merupakan keadaan  yang dapat terus dikaji dan dikembangkan menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Karena perubahan berlangsung begitu cepat, terlebih saat ini masuk ke era disruption. Bagi praktisi, ini bisa digunakan untuk menentukan arah kebijakan.

SHARE THIS POST

Share on facebook
Facebook
Share on linkedin
LinkedIn